RSS
 

Archive for the ‘Personal’ Category

Solusi Tepat Untuk Bangsa

14 Dec

Adakah yang mengetahui Solusi Tepat Untuk Bangsa ini? Dan adakah yang mengetahui solusi apa yang tepat untuk Mengembalikan Jati Diri Bangsa? Mari kita duduk bersama untuk mencari solusi yang tepat guna bagi bangsa ini. Nyokkk

Dosen Ilmu Sosial itu menuju kursinya. Diatas bangku dia membuka-buka buku setebal bantal itu sambil manggut-manggut. Entah apa yang sedang dipikirkan dosen kepala botak dan berkaca mata ini. Namun yang pasti dia bukan memikirkan cara Mengembalikan Jati Diri Bangsa Yang Hilang seperti ditulis Gus Yehia, Sang Juragan Onta dari Medan itu.

Pak Dosen kembali berdiri. Tanpa basa basi dan tanpa minum kopi terlebih dahulu, beliau langsung berkata : “Ini adalah solusi tepat untuk mengatasi korupsi di negeri ini.

Bicara masalah moral dan perilaku selalu menyinggung tentang reward dan punishment. Bila hukuman koruptor di negeri ini selalu ringan mustahil rasanya memberikan efek Pendidikan Korupsi secara konstan melalui praktek sehari-hari. Hukuman harus berat, diekspos semua media massa, dan diketahui semua lapisan masyarakat agar memberi pendidikan yang benar mengenai moral dan memberikan efek jera kepada masyarakat khususnya yang terkait dengan si terpidana.

Bila kasus korupsi sudah parah dan mendarah daging, mungkin perlu diterapkan hukuman mati seperti di Cina. Hukuman mati memang ditentang oleh banyak pihak terutama Vatikan dan negara-negara Eropa karena faktor agama dan kemanusiaan, tetapi karena pemerintah juga akan menanggung beban memberi tempat dan makan kepada para terpidana selama di penjara seumur hidup (dan terpidananya juga bakal luar biasa banyak) menjadikan hukuman mati adalah solusi konvensional yang praktis dan efektif.

Cina telah mengeksekusi ribuan orang sejak tahun 1998 ketika Presiden Jiang Ze Min memegang tampuk kekuasaan dan angka korupsi telah susut drastis dari populasi masyarakatnya yang korup yang berjumlah satu setengah milyar! Benar-benar suatu cara ampuh untuk mengendalikan penyakit di populasi yang besar.
Sebagai bangsa yang termasuk 5 besar penduduk terpadat di dunia, rasanya Indonesia perlu juga mengaplikasikan hukuman ini. Hukuman perlu dirancang sedemikian rupa hingga memberi efek jera. Di Cina, efek jera hukuman mati ditambah lagi oleh dana pelaksanaan hukuman yang harus ditanggung oleh keluarga terpidana.

Bila masyarakat Indonesia memang lebih bandel dari masyarakat Cina, mungkin efek baru harus dipikirkan supaya dapat memberikan tekanan psikologis yang besar bagi keluarga dan kroni-kroninya. Harus pula ditambahkan bahwa yang telah dilakukan terpidana adalah merampas hak hidup rakyat yang lain untuk hidup makmur (bukan hanya layak). Merampas hak anak-anak bersekolah yang baik. Merampas hak mendapat tempat tinggal, dan ribuan hak yang lain. Tidak sedikit juga rakyat yang mati kelaparan akibat ulah tak langsung dari sang terpidana korupsi.

Si Dosen langsung terbatuk-batuk karena terlalu serius memberikan pelajaran di kelas. Tiba-tiba hape dalam dompetnya saku celananya berbunyi. “Pi… jangan lupa bilang sama anak muridmu, barang siapa yang punya blog harap menaruh link Mengembalikan Jati Diri Bangsa disidebar blognya”

Raut muka dosen tak bergeming. Dia lalu kembali memasukan hape nokia 3515 itu kedalam saku celana. Dalam hati dia berpikir, si mami ini ada-ada ajah.. masak gw harus nyuruh murid-murid gw naruh link Mengembalikan Jati Diri Bangsa disidebar blog mereka… AKu sendiri tidak tahu apakah mereka sudah kenal blog atau belum. Atau jangan-jangan mereka 1,2,3… payah semuanya. Bisa jadi.. masih ada khan mahasiswa yang tidak kenal facebook? Ah itu mungkin mahasiswa yang terlalu berpegang teguh pada Fatwa MUI yang mengatakan bahwa Facebook Itu Haram. Jadi bukan mereka tidak kenal facebook melainkan mereka menghindari akan dampak negatif yang bisa ditimbulkan oleh facebook tersebut. Hmm… betul..betul..betulll

Lha pak, katanya tadi mau membahas tentang Solusi Tepat Untuk Bangsa. Mana solusinya? Kok malah cerita tentang Cara Mengatasi Korupsi siy?

Sabar murid-muridku. Kalau ada sumur diladang, bolehlah kita menumpang mandi. Kalau umur bapak panjang, akan bapak lanjutkan besok pagi. Lalu dosen keluar dari ruang kelas tanpa memperhatikan mahasiswa yang tengah terbengog-bengong. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang diucapkan barusan oleh sang dosen. Menumpang mandi? Berjumpa besok pagi? Walah.. ga mutu banged niy dosen.

Terakhir ini adalah postingan yang ditulis untuk memberikan dukungan kepada para laskar gurem yang tengah bertarung dalam kontes Mengembalikan Jati Diri Bangsa yang akan finish tanggal 21 Desember 2009 pukul 11.00 WIB dan masih terkait dengan artikel  Count Down Mengembalikan Jati Diri Bangsa

Selamat Mengembalikan Jati Diri Bangsa Yang Hilang, Gus..

 
7 Comments

Posted in Personal

 

Mampukah Pengemis Membangun Bangsa

11 Dec

Mungkin ini sebuah pertanyaan konyol. Mampukah Pengemis Membangun Bangsa? Jelas tidak akan mampu secara mereka tidak mengerti bagaimana membangun bangsa

Tingkat pendidikan yang rendah membuat mereka terbatas dalam berpartisipasi membangun bangsa. Apalagi kebanyakan dari mereka –maaf memiliki intelejensia yang rendah sehingga tidak sewajarnya kita berharap kepada mereka untuk dapat mengembalikan jati diri bangsa. Lalu partisipasi apa yang kita harapkan kepada mereka? Tidak ada. Tugas kita semua untuk memberikan solusi bagi mereka untuk bisa keluar dari profesi pengemis yang sesungguhnya. Memberikan berbagai keterampilan adalah langkah-langkah konkrit yang telah dilakukan pemerintah sebelum mereka memutuskan bahwa mengemis itu haram, dalam hal ini MUI yang telah mengeluarkan fatwa bahwa mengemis itu harom. Harom cuy…

Yang patut dipertanyakan adalah mengapa sebagian orang rela mengorbankan harkat dan martabat bangsanya sendiri demi mengeruk keuntungan secara pribadi? Inilah yang dituangkan Gus Yehia dalam artikelnya yang berjudul mengembalikan jati diri bangsa yang hilang. Banyak kita lihat berbagai kasuks penyelundupan kayu keluar negeri yang dilakukan oleh segelintir orang untuk memperkaya diri mereka sendiri. Perbuatan illegal logging ini tentu saja merugikan negara. Efek dari penebangan hutan secara liarpun dapat mengakibatkan banjir dimana-mana. Jadi tak salah bila Gus mengatakan bahwa semestinya kita mencoba mencari jati diri yang hilang didalam hutan belantara :lol:

Pengemis tetaplah memiliki jati diri. Namun tentu saja jati diri sebagai pengemis. Maksudku adalah kualitas jati diri mereka adalah peminta-minta. Sedangkan kita tahu bahwa tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Itu artinya hendaknya kita selalu berkerja keras untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik agar kita tidak terjebak dalam situasi sebagai orang yang tangannya dibawah. Dengan terus menerus memperbaiki kualitas jati diri yang telah ada, mudah-mudah kita akan mampu ikut serta dalam partisipasi Mengembalikan Jati Diri Bangsa

Pengemis tidak harus sebuah profesi. Mungkin kita sering melihat dan mendengar berita melalui berbagai media masa ada pejabat instansi tertentu yang meminta imbalan atas proyek yang mereka tenderkan kepada pihak kedua? Bukankah mereka ini termasuk pengemis juga? Ini yang saya maksudkan bahwa pengemis tidak berarti sebuah profesi. Kitapun kadang sering menjadi pengemis, Pengemis Cinta :D

Bagaimanpun juga kita patut menghargai langkah-langkah yang telah ditempuh oleh pemerintah untuk mengatasi para pengemis sungguhan ini. Melokasisasi mereka dan memberikan pendidikan keterampilan sebagai bekal mereka kelak adalah langkah konkrit bagi mereka untuk bisa berpartisipasi dalam mengembalikan jati diri bangsa.

Mari membangun jati diri untuk indonesia hahaha yang lebih baik.

 
5 Comments

Posted in Personal

 

Count Down Mengembalikan Jati Diri Bangsa

08 Dec

Lagu lawas dari group band Europe, Final Count Down temani malam lelahku disaat melakukan optimasi blog Mengembalikan Jati Diri Bangsa yang tak kunjung jua beranjak naik. Padahal segenap daya dan upaya telah aku kerahkan demi mendongkrak posisi artikel tersebut ke peringkat atas Google SERPs. 1,2,3 count down Mengembalikan Jati Diri Bangsa.

Tidak mudah ternyata untuk bisa bertahan dalam sebuah kontes seo seketat itu. Meski sudah terseok-seok melakukan link building, namun nyatanya tetap saja posisi stagnant, tak mau beranjak dari lumpur lapindo.. *coba nyewa buldozer buat ngangkatnya*

Malam ini aku ingin mengembalikan energi yang terkuras habis siang tadi. Pertandingan futsal antar RT yang berakhir dengan skor 50-60 untuk team gw ternyata sangat menguras tenaga. Kok banyak banged gol yang tercipta? Kenapa bisa gitu? Ya bisalah bro. Khan kipernya ga ada. Jadi pemainnya penyerang semua :lolz:

Apa siy jati diri itu? Menurut saya, jati diri adalah aku sejati  (berupa eksistensi) yang sesungguhnya yang ada dahulu, sekarang dan yang akan datang. Setiap orang memiliki jati diri yang mempunyai keunikannya masing- masing. Kalau saya punya jati diri pembela tanah air dan bangsa, gitcu man… *ngisep rokok dalam-dalam*

Kalau ditanya orang, apakah ada relevansi antara Indonesia hahaha dengan count down Mengembalikan Jati Diri Bangsa? Tentu ada. Coba perhatikan petikan kalimat berikut *ngambil kapur lalu nulis* Mengembalikan Jati Diri Bangsa Indonesia Hahaha… Benar khan kata gw?

 
3 Comments

Posted in Personal

 

Satu, Dua, Tiga… Payah Semuanya

07 Jul

capres-cawapresGambar pasangan Capres dan Cawapres mana yang teman2 harapkan akan terpampang di dinding kantor-kantor, sekolah-sekolah dan tempat-tempat lainnya selama 5 tahun mendatang? Pasangan nomer 1 (Megawati-Prabowo), atau pasangan nomer 2 (Susilo Bambang Yudhoyono – Boediono) atau pasangan nomer 3 (Jusuf Kalla – Wiranto)?

Sampai kira-kira 3 bulan yang lalu, saya masih berharap gambar pasangan SBY – JK yang akan saya lihat selama 5 tahun mendatang. Sayangnya, SBY dan JK memilih bercerai! Uhh .. kuciwa deh. Lalu, pasangan mana yang akan saya pilih sekarang? Saya mengamati dengan cermat sepak terjang ketiga pasangan capres-cawapres ini selama masa Kampanye Damai. Masing-masing pasangan berlomba menampilkan citra dan program terbaiknya. Alhamdulillah, selama masa kampanye tak terjadi kerusuhan fisik. Namun, adu sindir, adu claim siapa yang paling berperan dan berjasa, adu melecehkan adalah sisi lain dari kampanye pilpres kali ini. Mungkin cara ini bagian dari yang disebut ‘demokrasi’ ya? :D

Jujur-jujur, walau saya berharap dan akan sangat bangga bila republik ini dipimpin oleh seorang perempuan, Megawati nggak akan pernah masuk dalam pilihan saya. Saya mengagumi menghormati ayahnya — sang proklamator dan Presiden pertama RI: Soekarno — namun, Megawati Soekarnoputri BUKAN Soekarno. Seandainya saja Mega memiliki 10% saja dari kualitas seorang Soekarno, maka mungkin ( mungkin lhoooo) saya akan mempertimbangkan untuk memilih Mega.
(Catatan: saya lebih suka Prabowo jadi Capres.. he3x.. sayangnya beliau memutuskan lebih baik kalah sebagai cawapres)

SBY, mungkin masih merupakan pilihan yang baik. Sayangnya ‘blunder-blunder’ yang dilakukan oleh orang2 kepercayaannya membuat saya agak “gamang”. Komunikasi politik yang disiapkan tim kampanye SBY “kurang cerdas”, tidak “talk to the heart”. Padahal, dalam posisinya yang lumayan ‘diatas angin’ kampanye yang defensif dan otoritatif malah mengurangi nilai SBY. Setidaknya demikian di mata saya .. he3x.

Pasangan nomer 3, konon memiliki daya tarik tersendiri. JK yang pandai bersilat lidah sering menuai applause. Dan bagi sebagian orang, isteri mereka yang berbusana muslim (baca: berjilbab) jadi alasan yang dirasa tepat untuk memilih. Awalnya, saya menyukai gaya JK yang berbeda dari SBY. Namun sungguh saya terheran-heran ketika beliau tak segan mencitrakan bahwa program pemerintah yang berhasil adalah karena jasa beliau, sedangkan yang tidak berhasil semata-mata kesalahan pemerintah (baca: pemerintah SBY) seolah beliau bukan merupakan bagian dari pemerintah tersebut :D

Alhamdulillah saya sudah menerima undangan untuk mencontreng sejak jauh-jauh hari. Dan saya sudah berjanji pada diri saya sendiri bahwa sejelek apa pun pilihan yang tersedia, saya tak akan menjadi Golput!! Pasangan manakah yang akan saya pilih besok? Masih ada beberapa jam lagi untuk menimbang dan saat ini nada sebuah lagu terus berulang di benak saya:

    Satu
    Dua
    Tiga
    Sayang Payah Semuanyaaaa