Akhir pekan yang lalu saya terhenyak membaca sebuah berita di kolom kecil sebuah harian terbitan ibukota: sebuah patung Obama –sang Presiden Amerika sat ini — resmi jadi ‘penghuni” Taman Menteng Jakarta Pusat. Patung perunggu Obama yang digambarkan berkaos, bercelana pendek, bersepatu kets dan memegang kupu-kupu ditangan kirinya dengan total ketinggian 2 meter ini dirancang oleh seniman Leo Angelo dan dipahat oleh pematung Edi Chaniago. Di dasar patung tertuliskan kata-kata kenangan dari Obama bagi anak-anak Indonesia:
“The future belongs to those who believe in the power of their dreams”.
Pesan yang amat indah dan inspiratif. Terutama dalam upaya Mengembalikan Jati Diri Bangsa.
Patung yang pendiriannya digagas oleh yayasan “Friends Of Obama” ini diberi nama “Barry Dream Statue” dan diharapkan dapat menginspirasi anak-anak Indonesia untuk berani bermimpi dan meraihnya seperti yang berhasil dicapai oleh Barrack Obama, yang pernah tumbuh dan berkembang melewati beberapa tahun masa kecilnya di Jakarta dan bersekolah di SDN 01 Jak Pus – di jalan Besuki tak jauh dari lokasi Taman Menteng ini.
Patung yang indah dan membawa pesan yang indah dan inspiratif. Follow Your Dream! And make it happen. Gak ada yang salah dengan pernyataan itu kan? Tapi betulkah bisa jadi inspirasi bagi usaha Mengembalikan Jati Diri Bangsa
Jujur-jujur, menurut saya pribadi “inisiatif manis” tersebut rada “berlebihan”. Memilih Obama jadi tokoh inspiratif boleh-boleh saja, apalagi dia saat ini ada lah seorang Presiden Amerika, negara adidaya. Bila ia menjadi Presiden di negara antah berantah non-adidaya, akan kah kita sebangga itu?? Tapi pertanyaan besarnya sesungguhnya adalah: apa sih sebetulnya yang kita — bangsa Indonesia — banggakan dari seorang Obama? Mematungkan dia (hi3x..istilah asal ajah) hanya karena dia pernah tinggal dan bersekolah di Indonesia (baca: Jakarta)? Apalagi bila seorang Mantan Wakil Presiden dan seorang Wali Kota Jakarta Pusat menghubungkannya dengan “keberhasilan sistem pendidikan Indonesia”, seperti yang dikutip beberapa media massa. Waaahhhh …. Lebay.com.. Indonesia hahaha
Ditengah berbagai persoalan yang sedang melanda republik tercinta ini, kontroversi tentang keberadaan patung Obama di sebuah sudut Taman Menteng terasa “sepele”. Di lain pihak, bila Mengembalikan Jati Diri Bangsa adalah sebuah keniscayaan, maka mencintai , menghargai dan bangga terhadap apa yang kita miliki adalah langkah kecil namun penting untuk dilakukan, terlepas dari segala kekurangan yang pastinya masih ada. Dan seruan para Face Bookers — yang konon punya andil besar dalam menyuarakan suara rakyat dalam kasuk KPK/Bibit-Chandra — kali ini pun sekali lagi perlu disimak baik2 : Turunkan Patung Barack Obama di Taman Menteng. Bangsa Indonesia punya banyak tokoh inspiratif, yang menanam mimpi lalu menuainya jadi kenyataan. Mungkin bukan seorang Presiden Amerika, namun yang jasanya nyata bagi Indonesia. Dan tentunya, lebih layak buat dapat tempat yang terhormat di sudut Taman Menteng kebanggaan warga Ibu Kota!!
Gambar pasangan Capres dan Cawapres mana yang teman2 harapkan akan terpampang di dinding kantor-kantor, sekolah-sekolah dan tempat-tempat lainnya selama 5 tahun mendatang? Pasangan nomer 1 (Megawati-Prabowo), atau pasangan nomer 2 (Susilo Bambang Yudhoyono – Boediono) atau pasangan nomer 3 (Jusuf Kalla – Wiranto)?
Bila suasana Jakarta terlihat tenang, sunyi senyap di jalan-jalan utama pada hari pelaksanaan
Sudah 2 hari ini
“Satu Jam Saja” — ini bukan lagu Audy yang sempat yang terkenal itu lhoo, tetapi bagian dari
Benar juga dia ya! Saya jadi ingat, bahwa pemenang 1 – 10 Busby SEO Test yang finish akhir bulan lalu didominasi oleh laki-laki. Dan Evy, salah satu dari amat sedikit peserta perempuan berhasil menempati paruh awal halaman 2.. benar kan, “eda”? Hebat yaaa! Jadi, bukan mustahil kali ini perempuan akan menembus dominasi laki-laki di halaman pertama. Sungguh, saya gak bermaksud mengangkat masalah gender. Cuma ingin memaparkan fakta yang sering kita jumpai sehari-hari. Seolah ada “wilayah laki-laki” dan “wilayah perempuan”.