Adakah yang mengetahui Solusi Tepat Untuk Bangsa ini? Dan adakah yang mengetahui solusi apa yang tepat untuk Mengembalikan Jati Diri Bangsa. Mari kita duduk bersama untuk mencari solusi yang tepat guna bagi bangsa ini. Nyokkk

Dosen Ilmu Sosial itu menuju kursinya. Diatas bangku dia membuka-buka buku setebal bantal itu sambil manggut-manggut. Entah apa yang sedang dipikirkan dosen kepala botak dan berkaca mata ini. Namun yang pasti dia bukan memikirkan cara Mengembalikan Jati Diri Bangsa Yang Hilang seperti ditulis Gus Yehia, Sang Juragan Onta dari Medan itu.

Pak Dosen kembali berdiri. Tanpa basa basi dan tanpa minum kopi terlebih dahulu, beliau langsung berkata : “Ini adalah solusi tepat untuk mengatasi korupsi di negeri ini.

Bicara masalah moral dan perilaku selalu menyinggung tentang reward dan punishment. Bila hukuman koruptor di negeri ini selalu ringan mustahil rasanya memberikan efek Pendidikan Korupsi secara konstan melalui praktek sehari-hari. Hukuman harus berat, diekspos semua media massa, dan diketahui semua lapisan masyarakat agar memberi pendidikan yang benar mengenai moral dan memberikan efek jera kepada masyarakat khususnya yang terkait dengan si terpidana.

Bila kasus korupsi sudah parah dan mendarah daging, mungkin perlu diterapkan hukuman mati seperti di Cina. Hukuman mati memang ditentang oleh banyak pihak terutama Vatikan dan negara-negara Eropa karena faktor agama dan kemanusiaan, tetapi karena pemerintah juga akan menanggung beban memberi tempat dan makan kepada para terpidana selama di penjara seumur hidup (dan terpidananya juga bakal luar biasa banyak) menjadikan hukuman mati adalah solusi konvensional yang praktis dan efektif.

Cina telah mengeksekusi ribuan orang sejak tahun 1998 ketika Presiden Jiang Ze Min memegang tampuk kekuasaan dan angka korupsi telah susut drastis dari populasi masyarakatnya yang korup yang berjumlah satu setengah milyar! Benar-benar suatu cara ampuh untuk mengendalikan penyakit di populasi yang besar.
Sebagai bangsa yang termasuk 5 besar penduduk terpadat di dunia, rasanya Indonesia perlu juga mengaplikasikan hukuman ini. Hukuman perlu dirancang sedemikian rupa hingga memberi efek jera. Di Cina, efek jera hukuman mati ditambah lagi oleh dana pelaksanaan hukuman yang harus ditanggung oleh keluarga terpidana.

Bila masyarakat Indonesia memang lebih bandel dari masyarakat Cina, mungkin efek baru harus dipikirkan supaya dapat memberikan tekanan psikologis yang besar bagi keluarga dan kroni-kroninya. Harus pula ditambahkan bahwa yang telah dilakukan terpidana adalah merampas hak hidup rakyat yang lain untuk hidup makmur (bukan hanya layak). Merampas hak anak-anak bersekolah yang baik. Merampas hak mendapat tempat tinggal, dan ribuan hak yang lain. Tidak sedikit juga rakyat yang mati kelaparan akibat ulah tak langsung dari sang terpidana korupsi.

Si Dosen langsung terbatuk-batuk karena terlalu serius memberikan pelajaran di kelas. Tiba-tiba hape dalam saku celananya berbunyi. “Pi… jangan lupa bilang sama anak muridmu, barang siapa yang punya blog harap menaruh link Mengembalikan Jati Diri Bangsa disidebar blognya”

Raut muka dosen tak bergeming. Dia lalu kembali memasukan hape nokia 3515 itu kedalam saku celana. Dalam hati dia berpikir, si mami ini ada-ada ajah.. masak gw harus nyuruh murid-murid gw naruh link Mengembalikan Jati Diri Bangsa disidebar blog mereka… AKu sendiri tidak tahu apakah mereka sudah kenal blog atau belum. Atau jangan-jangan mereka 1,2,3… payah semuanya. Bisa jadi.. masih ada khan mahasiswa yang tidak kenal facebook? Ah itu mungkin mahasiswa yang terlalu berpegang teguh pada Fatwa MUI yang mengatakan bahwa Facebook Itu Haram. Jadi bukan mereka tidak kenal facebook melainkan mereka menghindari akan dampak negatif yang bisa ditimbulkan oleh facebook tersebut. Hmm… betul..betul..betulll

Lha pak, katanya tadi mau membahas tentang Solusi Tepat Untuk Bangsa. Mana solusinya? Kok malah cerita tentang Cara Mengatasi Korupsi siy?

Sabar murid-muridku. Kalau ada sumur diladang, bolehlah kita menumpang mandi. Kalau umur bapak panjang, akan bapak lanjutkan besok pagi. Lalu dosen keluar dari ruang kelas tanpa memperhatikan mahasiswa yang tengah terbengog-bengong. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang diucapkan barusan oleh sang dosen. Menumpang mandi? Berjumpa besok pagi? Walah.. ga mutu banged niy dosen.

Terakhir ini adalah postingan yang ditulis untuk memberikan dukungan kepada para laskar gurem yang tengah bertarung dalam kontes Mengembalikan Jati Diri Bangsa yang akan finish tanggal 21 Desember 2009 pukul 11.00 WIB dan masih terkait dengan artikelĀ  Count Down Mengembalikan Jati Diri Bangsa

Selamat Mengembalikan Jati Diri Bangsa Yang Hilang, Gus..