Mungkin ini sebuah pertanyaan konyol. Mampukah Pengemis Membangun Bangsa? Jelas tidak akan mampu secara mereka tidak mengerti bagaimana membangun bangsa

Tingkat pendidikan yang rendah membuat mereka terbatas dalam berpartisipasi membangun bangsa. Apalagi kebanyakan dari mereka –maaf memiliki intelejensia yang rendah sehingga tidak sewajarnya kita berharap kepada mereka untuk dapat mengembalikan jati diri bangsa. Lalu partisipasi apa yang kita harapkan kepada mereka? Tidak ada. Tugas kita semua untuk memberikan solusi bagi mereka untuk bisa keluar dari profesi pengemis yang sesungguhnya. Memberikan berbagai keterampilan adalah langkah-langkah konkrit yang telah dilakukan pemerintah sebelum mereka memutuskan bahwa mengemis itu haram, dalam hal ini MUI yang telah mengeluarkan fatwa bahwa mengemis itu harom. Harom cuy…

Yang patut dipertanyakan adalah mengapa sebagian orang rela mengorbankan harkat dan martabat bangsanya sendiri demi mengeruk keuntungan secara pribadi? Inilah yang dituangkan Gus Yehia dalam artikelnya yang berjudul mengembalikan jati diri bangsa yang hilang. Banyak kita lihat berbagai kasuks penyelundupan kayu keluar negeri yang dilakukan oleh segelintir orang untuk memperkaya diri mereka sendiri. Perbuatan illegal logging ini tentu saja merugikan negara. Efek dari penebangan hutan secara liarpun dapat mengakibatkan banjir dimana-mana. Jadi tak salah bila Gus mengatakan bahwa semestinya kita mencoba mencari jati diri yang hilang didalam hutan belantara :lol:

Pengemis tetaplah memiliki jati diri. Namun tentu saja jati diri sebagai pengemis. Maksudku adalah kualitas jati diri mereka adalah peminta-minta. Sedangkan kita tahu bahwa tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Itu artinya hendaknya kita selalu berkerja keras untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik agar kita tidak terjebak dalam situasi sebagai orang yang tangannya dibawah. Dengan terus menerus memperbaiki kualitas jati diri yang telah ada, mudah-mudah kita akan mampu ikut serta dalam partisipasi Mengembalikan Jati Diri Bangsa

Pengemis tidak harus sebuah profesi. Mungkin kita sering melihat dan mendengar berita melalui berbagai media masa ada pejabat instansi tertentu yang meminta imbalan atas proyek yang mereka tenderkan kepada pihak kedua? Bukankah mereka ini termasuk pengemis juga? Ini yang saya maksudkan bahwa pengemis tidak berarti sebuah profesi. Kitapun kadang sering menjadi pengemis, Pengemis Cinta :D

Bagaimanpun juga kita patut menghargai langkah-langkah yang telah ditempuh oleh pemerintah untuk mengatasi para pengemis sungguhan ini. Melokasisasi mereka dan memberikan pendidikan keterampilan sebagai bekal mereka kelak adalah langkah konkrit bagi mereka untuk bisa berpartisipasi dalam mengembalikan jati diri bangsa.

Mari membangun jati diri untuk indonesia hahaha yang lebih baik.

Lagu lawas dari group band Europe, Final Count Down temani malam lelahku disaat melakukan optimasi blog Mengembalikan Jati Diri Bangsayang tak kunjung jua beranjak naik. Padahal segenap daya dan upaya telah aku kerahkan demi mendongkrak posisi artikel tersebut ke peringkat atas Google SERPs. 1,2,3 count down Mengembalikan Jati Diri Bangsa.

Tidak mudah ternyata untuk bisa bertahan dalam sebuah kontes seo seketat itu. Meski sudah terseok-seok melakukan link building, namun nyatanya tetap saja posisi stagnant, tak mau beranjak dari lumpur lapindo.. *coba nyewa buldozer buat ngangkatnya*

Malam ini aku ingin mengembalikan energi yang terkuras habis siang tadi. Pertandingan futsal antar RT yang berakhir dengan skor 50-60 untuk team gw ternyata sangat menguras tenaga. Kok banyak banged gol yang tercipta? Kenapa bisa gitu? Ya bisalah bro. Khan kipernya ga ada. Jadi pemainnya penyerang semua :lolz:

Apa siy jati diri itu? Menurut saya, jati diri adalah aku sejati  (berupa eksistensi) yang sesungguhnya yang ada dahulu, sekarang dan yang akan datang. Setiap orang memiliki jati diri yang mempunyai keunikannya masing- masing. Kalau saya punya jati diri pembela tanah air dan bangsa, gitcu man… *ngisep rokok dalam-dalam*

Kalau ditanya orang, apakah ada relevansi antara Indonesia hahaha dengan count down Mengembalikan Jati Diri Bangsa? Tentu ada. Coba perhatikan petikan kalimat berikut *ngambil kapur lalu nulis* Mengembalikan Jati Diri Bangsa Indonesia Hahaha… Benar khan kata gw?